Diam

aduh!
ratusan tahun terperangkap
dalam sopan santun,
kesannya bungkam & mundur,
puluhan purnama memendam
dalam busuknya diam
akhirnya pisah & putus,
sepanjang hari terpenjara
dalam wanginya retorika
hasilnya khayal atau amuk,
aduh!
katakan padaku…
bisiklah,
walau secercah rasa,
keluar dari penjara itu!
& carilah kamar yang sedia
menyambut bicaramu

aku bukan Mahathir
merenung ini sebagai amuk,
kutatap bola matamu berkaca
kutahu hatimu pecah berkecamuk,
tidaklah aku cukup lelaki
jika kubiarkan kaki orang lain
terluka dek terpijak tajam sedihmu,
& tidaklah aku benar lelaki
jika hidup berkalang wanita,
maafkan aku ya?
maaf manifestoku tak tepat citarasa
tapi
ini pentas perdana mukhlis kuberikan,
sekarang bicaralah dari hati
tapi jangan anggap ini kroni, sayang
memilikimu juga belum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s